Buleleng dan Kekuasaan Dinasti Warmadewa di Bali

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat memahami sejarah terbentuknya Kekuasaan Dinasti Warmadewa di Bali

Materi Pembelajaran :

Buleleng dan Kerajaan Dinasti Warmadewa di Bali a. Perkembangan Buleleng

Kamu tidak asing dengan nama pulau Bali. Nama Buleleng mulai terkenal setelah periode kekuasaan Majapahit. Pada masa sekarang Buleleng adalah salah satu nama kabupaten di Bali. Tetaknya yang ada di tepi pantai, berkembang menjadi pusat perdagangan laut. Hasil pertanian dari pedalaman diangkut lewat darat menuju Buleleng. Dari Buleleng barang dagangan yang berupa basil pertanian seperti kapas, beras, asam, kemiri, dan bawang diangkut atau diperdagangkan ke pulau lain (daerah seberang). Dengan perkembangan perdagangan laut/antarpulau di zaman kuno, secara ekonomis Buleleng memiliki peranan yang penting bagi perkembangan kerajaan-kerajaan di Bali, misalnya pada masa Kerajaan Dinasti Warmadewa.

a. Kerajaan Dinasti Warmadewa 

1) Sumber Sejarah

Prasasti tertua yang berangka tahun 804 S atau 882 M berisi tentang pemberian izin kepada para biksu untuk membuat pertapaan di Bukit Kintamani. Dalam rasasti itu disebut istana raja terletak di Singhamandawa. Prasasti semacam tugu di Desa Blanjong, dekat Sanur yang berangka tahun 836 S atau 914 M. Disebut pada prasasti itu yang memerintah adalah Raja Kesari Warmadewa.

Menurut perkiraan, Singhamandawa terletak di antara Kintamani (Danau Batur) dan Pantai Sanur (Blanjong), yakni sekitar Tampaksiring dan Pejeng. Singhamndawa berada di antara Sungai Patanu dan Pakerisan. Menurut para pemuka di Bali, Singhamandawa terletak di Pejeng sekarang.

2) Perkembangan Politik Pemerintahan

Raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Singhamandawa dikenal dengan Wangsa (Keluarga) Warmadewa. Sebagai wamsakertanya adalah Kesari Warmadewa. Setelah Kesari warmadewa (tahun 915 – 942 M) yang menjadi raja adalah Ugrasena. Setelah itu, raja-raja yang memerintah di Bali dari Wangsa Warmadewa antara lain sebagai berikut.

Tabanendra Warmadewa, memerintah bersama permaisurinya Sang Ratu Luhur Sri Subadrika Darmadewi (955 – 967 M).

Indra Jayasinga Warmadewa (967 – 975 M).

Janasadu Warmadewa (975 – 983 M).

Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi, seorang raja perempuan (983 – 989 M).

Darma Udayana Warmadewa, memerintah bersama permaisurinya Mahendradatta (989 – 1011 M).

Marakata Pangkaa (1011 – 1025 M).

Anak Wungsu (1049 – 1077 M).

Sri Maharaja Sri Walaprabu.

Dari beberapa raja tersebut yang terkenal antara lain Indra Jayasinga Warmadewa, Udayana, dan Anak Wungsu.

Udayana termasuk raja yang besar dari Wangsa Warmadewa. Ia memerintah bersama permaisurinya bernama Mahendradatta (putri dari Raja Makutawangsawardana di Jawa Timur). Pada tahun 1001 M Mahendradatta meninggal dan dicandikan di Desa Burwan atau Buruan di dekat Bedulu. Arca perwujudannya berupa Durga terdapat di Kutri, daerah Gianyar, sehingga dikenal dengan Durga Kutri.

Sepeninggal Mahendradatta, Udayana menjalankan pemerintahan sendiri sampai tahun 1011 M. Udayana meninggal dan dicandikan di Banu Wka. Udayana mempunyai tiga orang putra, yakni Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga kemudian berkuasa di Jawa Timur menggantikan Darmawangsa. Sebagai pengganti raja di Bali adalah Marakata (Marakata Pangkaja). Raja Marakata disebut sebagai kebenaran hukum dan selalu melindungi rakyatya.

Marakata Pangkaja digantikan oleh saudaranya bernama Anak Wungsu. Pada masa pemerintahan Anak Wungsu, kekuasaan Wangsa Warmadewa mencapai zaman keemasan. Kerajaan dalam keadaan aman dan tenteram. Rakyat bertambah makmur. Pada masa pemerintahannya, Agama juga berkembang. Anak Wungsu, adalah Pemeluk Hindu yang setia terutama aliran Waisnawa. Ia telah membangun kompleks percandian di Gunung Kawi, Tampaksiring.

Anak Wungsu memerintah sampai tahun 1077 M. Ia tidak menurunkan seorang putra pun. Anak Wungsu meninggal tahun 1077 M dan dicandikan di Gunung Kawi dekat Tampaksiring. Anak Wungsu digantikan oleh Sri Maharaja Sri Walaprabu..

Setelah kekuasaan Jayasakti berakhir, tidak terdengar berita siapa yang merjadi raja. Baru pada tahun 1155 M, muncul seorang raja bernama Ranggajaya. Pemerintahan raja ini tidak banyak diketahui. Hanya pada tahun 1177 M. muncul pemerintahan Raja Jayapangus. Raja ini diperkirakan putra dari Ranggajaya.

Raja Jayapangus merupakan raja yang terkenal di Bali. Jayapangus memerintah sampai tahun 1181 M. Sesudah Raja Jayapangus, masih banyak raja-raja yang memerintah di Bali. Pada tahun 1284 M, Bali ditundukkan oleh Kertanegara dari Singasari. Pada tahun 1343 M Bali menjadi daerah kekuasaan Majapahit

Sumber :

Sudrajat. 2012. Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *