Johanna Masdani, Pejuang Perempuan yang Progresif

Tujuan Pembelajaran :

Meneladani tokoh pada masa sebelum kemerdekaan Indonesia

Materi Pembelajaran :

Johanna Masdani

Kelahiran Amurang, Sulawesi Utara, 29 November 1910 ini, waktu masih gadis bernama Johanna Tumbuan. Menurut buku Rosihan Anwar, Le Petite Histoire, Jo sapaan akrab Johanna, masih berusia 18 tahun, bersama Dolly Putri Haji Agus Salim, satu dari sedikit perempuan yang hadir dalam peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 di Gedung Kramat Raya, Jakarta. Mereka dua juga ikut menyanyikan Indonesia Raya dalam ajang penting itu.

Keterlibatan perempuan yang gesit semasa hidupnya tersebut dalam dunia pergerakan berawal sejak usia 16 tahun. Ketika itu ia bergabung dalam Jong Minahasa, yang kemudian berubah jadi Jong Celebes. Lalu, aktif dalam Jong Indonesia, dan pada saatnya berubah menjadi Indonesia Muda. Jo Masdani juga giat dalam kegiatan organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia.

Sebagai aktivis pemuda-pemudi menjelang kemerdekaan, Johanna banyak berjumpa dengan tokoh-tokoh lain. Seperti Muhammad Yamin, Dr. Rusmali, Mr. Asaat, dan orang yang belakangan menjadi suaminya, Masdani, juga seorang tokoh pergerakan. Jo juga menjadi seorang saksi sejarah detik-detik Proklamasi Indonesia yang dilakukan Bung Karno dan Bung Hatta, 17 Agustus 1945.

Jo ikut serta menyusun konsep pembangunan Tugu Proklamasi yang sederhana di depan rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur (kini Jalan Proklamasi) nomor 56, Jakarta. Tugu ini kemudian dibongkar oleh Bung Karno, namun dibangun kembali pada 1980-an.

Dalam Perang Kemerdekaan Jo ikut suaminya menyelundupkan beras untuk penduduk dari Karawang, Cikampek. Ia juga menyelundupkan senjata yang diperoleh dari Jakarta untuk pejuang di daerah pedalaman hingga Yogyakarta.

Jo pernah menjadi guru di Perguruan Rakyat di Gang Kenari, Jakarta, saat bantuan dari orangtuanya di kampung halaman terhenti. Ia aktivis Palang Merah Indonesia dan menjadi pembimbing Pandu Rakyat Indonesia. Di alam kemerdekaan, Jo menjadi mahasiswa psikologi di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Sang Suami yang menyuruhnya, setelah ia lulus dari Paedagogische Algemene Middlebare School.

Setelah lulus dari almamaternya, Jo mengabdikan diri sebagai dosen Psikiatri sejak 1961. Pada 1970-an, ia mengambil pendidikan lanjutan di Amerika Serikat dan Inggris. Sebagai ahli psikiatri, Jo mengabdi untuk mengatasi remaja kecanduan narkotika, hamil di luar nikah, hingga remaja yang kesulitan belajar. Jo Masdani tutup usia, 13 Mei 2006 dalam usia 95 tahun.

 

 

Sumber :

https://historia.id/50-tapak-perempuan-nusantara/articles/johanna-masdani-DwRjA

https://tokoh.id/tokoh/ensiklopedi/johanna-masdani/

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *