Kerajaan Jambi

Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami sejarah, ekonomi, masa kejayaan dan sebab kemunduran dari Kesultanan Jambi.

 

Materi Pembelajaran

Kesultanan Jambi adalah kerajaan Islam yang berkedudukan di provinsi Jambi. Kerajaan ini berbatasan dengan Kerajaan Indragiri dan kerajaan-kerajaan Minangkabau seperti Siguntur dan Lima Kota di utara. Di selatan kerajaan ini berbatasan dengan Kesultanan Palembang (kemudian Keresidenan Palembang). Jambi juga mengendalikan lembah Kerinci, meskipun pada akhir masa kekuasaannya kekuasaan nominal ini tidak lagi dipedulikan. Ibukota Kesultanan Jambi terletak di kota Jambi, yang terletak di pinggir sungai Batang Hari.

 

Sejarah

Wilayah Jambi dulunya merupakan wilayah Kerajaan Malayu, dan kemudian menjadi bagian dari Sriwijaya. Pada akhir abad ke-14 Jambi merupakan vasal Majapahit, dan pengaruh Jawa masih terus mewarnai kesultanan Jambi selama abad ke-17 dan ke-18.  Berdirinya kesultanan Jambi bersamaan dengan bangkitnya Islam di wilayah itu.

 

Sultan-sultan yang Memerintah

Berikut ini merupakan urutan para raja-raja yang memerintah di Kesultanan Jambi:

  1. Sultan Kyai Gede (1687-1696)
  2. Sultan Sri Maharaja Batu (1690-1721)
  3. Sultan Ahmad Zainuddin (1770-1790)
  4. Sultan Ratu Seri Ingalaga (1790-1812)
  5. Mahmud Muhieddin (1833-1841)
  6. Muhammad Fakhruddin (1833-1841)
  7. Abdun Rahman Nazaruddin (1841-1855)
  8. Thaha Safiuddin (1855-1858)
  9. Ahmad Nazaruddin (1858-1881)
  10. Muhammad Muhieddin (1881-1885)
  11. Ahmad Zainul Abidin (1885-1899)
  12. Thaha Safiuddin (1900-1904)

 

Perekonomian

Pertanian dan perkebunan merupakan faktor yang sangat penting dalam perekonomian Jambi. Selain kopi dan teh, karet menjadi andalan ekspor Jambi sejak awal abad 19. Ketika harga karet cukup tinggi berimbas dengan meningkatnya penghasilan rakyat Jambi, terutama petani karet. Masa tersebut merupakan kejayaan dan kemakmuran atau disebut juga sebagai “hujan emas”. Selain harga karet yang cukup tinggi, harga hasil bumi lainnya, seperti kopi, kopra, teh, lada, dan minyak juga meningkat di pasaran ekspor. Hubungan dagang antara Jambi dengan Singapura, Malaka, dan Cina semakin baik. Jambi menjual hasil perkebunannya kepada pedagang Cina yang merupakan pedagang perantara dengan Singapura. Sebaliknya, pedagang Cina membayar dengan bahan kebutuhan sehari-hari, seperti garam, tekstil, dan lain-lain.

 

Masa Kejayaan dan Kemunduran

Pada 1616 Jambi merupakan pelabuhan terkaya kedua di Sumatera setelah Aceh, dan pada 1670 kerajaan ini sebanding dengan tetangga-tetangganya seperti Johor dan Palembang. Namun kejayaan Jambi tidak berumur panjang. Tahun 1680-an Jambi kehilangan kedudukan sebagai pelabuhan lada utama, setelah perang dengan Johor dan konflik internal.

Tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat, keturunan Sultan Thaha, sultan yang terakhir, menyerah Belanda. Jambi digabungkan dengan keresidenan Palembang.

Tahun 1906 kesultanan Jambi resmi dibubarkan oleh pemerintah Hindia Belanda.

 

Sumber:

  • Bahan Ajar Sejarah Indonesia kelas 8
  • Wikipedia
  • Kajanglako.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *