Kerajaan Kediri

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat memahami sejarah terbentuknya Kerajaan Kediri

Materi Pembelajaran :

Kerajaan Kediri

Munculnya Kerajaan Kediri erat kaitannya dengan kelanjutan Kerajaan Panjalu dan Jenggala. Panjalu di bawah Samarawijaya dan Jenggala di bawah Panji Garasakan terjadi konflik. Akhirnya pada tahun 1052 terjadilah pertempuran antara kedua kerajaan. Kerajaan Jenggala memenangkan pertempuran. Selanjutnya Panjalu dan Jenggala di bawah pemerintahan Panji Garasakan (raja Jenggala). Perkembangan berikutnya Kerajaan ini lebih dikenal dengan nama Kerajaan Kediri dengan ibu kotanya di Daha.

a. Raja-Raja Kediri

Raja terkenal Kediri adalah Raja Jayabaya yang memerintah mulai tahun 1135-1157. Jayabaya terkenal dengan berbagai ramalannya yang sampai saat ini masih dipercayai oleh sebagian masyarakat.

Selain ramalannya, kebesaran Jayabaya juga diwarnai terbitnya kibat gubahan. Kitab tersebut adalah Baratayuda yang digubah oleh Empu Sedah yang dilanjutkan oleh Empu Panuluh. Beberapa raja setelah Jayabaya dapat dilihat pada daftar di bawah ini.

Sarweswara (1159 – 1169).

Sri Ayeswara (1169 – 117 1).

Sri Gandra (1181 – 1182).

Kameswara (1182 – 1185).

Kertajaya (1185 – 1222).

 

b. Kemajuan kerajaan

Jayabaya adalah raja yang cukup berhasil membawa Kerajaan Kediri dalam kemajuan. Kerajaan semakin teratur, rakyat hidup makmur. Kediri juga memiliki armada laut bahkan telah ada Senopati Sarwajala (panglima angkatan laut). Pajak telah diberlakukan dengan sistem pajak in natura, berupa penyerahan sebagian hasil buminya kepada pemerintah.

Salah atu simbol kemajuan suatu negara adalah kemajuan perkembangan kesenian dan kesusasteraan. Seni sebagai nilai estetika akan menjadikan simbol telah terpenuhinya kebutuhan primer suatu kelompok atau masysrakat. Bagaimana dengan perkembangan seni dan kesusasteraan di Kerajaan Kediri? Selain wayang Panji, di Kediri juga berkembang beberapa hasil kesusasteraan berikut ini.

Kitab Baratayuda

Kamu masih ingat perang Panjalu dan Jenggala? Perang tersebut adalah perang saudara, karena kedua rajanya berasal dari satu keturunan. Pada masa pemerintahan Jayabaya, lahirlah sebuah kitab yang dikenal Kitab Baratayuda . Kitab ini menggambarkan perang Pandawa dan Kurawa yang tercermin dalam perang Panjalu dan Jenggala.

Kitab Kresnayana

Kitab Kresnayana ditulis oleh Empu Triguna pada zarnan Raja Jayaswara. Isinya mengenai perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.

Kitab Smradahana

Kitab Smaradahana ditulis oleh Empu Darmaja. Isinya menceritakan tentang sepasang suami istri, Smara dan Rati yang menggoda Dewa Syiwa yang sedang bertapa. Smara dan Rati kena kutuk dan mati terbakar oleh api (dahana) karena kesaktian Dewa Syiwa. Akan tetapi, kedua suami istri itu dihidupkan lagi dan menjema sebagai Kameswara dan permaisurinya.

Kitab Lubdaka

Kitab Lubdaka ditulis oleh Empu Tanakung. Isinya tentang seorang pemburu bernama Lubdaka. Ia sudah banyak membunuh. Pada suatu ketika ia mengadakan pemujaan yang istimewa terhadap Syiwa, sehingga rohnya yang semestinya masuk neraka akhirnya masuk surga.

Kerajaan Kediri akhirnya mengalami keruntuhan. Kertajaya atau Dandang Gendis merupakan raja terakhir. Terjadi pertentangan antara Kertajaya dengan para pendeta atau kaum brahmana. Kertajaya dianggap sombong dan berani melanggar adat.

Akibat dari pertentangan tersebut, muncullah tokoh Ken Arok. Pada awalnya, menurut cerita, Ken Arok hanyalah rakyat biasa. Namun ia mendapat keistimewaan yang luar biasa. Dari rakyat biasa Ken Arok berhasil menjadi Bupati Tumapel. Keberhasilan Ken Arok menjadi Bupati Tumapel tidak lepas dari kesaktiannya dan berhasil mengalahkan Bupati Tumapel. Pada tahun 1222 M Ken Arok menyerang Kediri dan berhasil merebut istana kerajaan.

Sumber :

Sudrajat. 2012. Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *