Kerajaan Mataram Islam

Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami sejarah, ekonomi, masa kejayaan dan sebab kemunduran dari Kerajaan Mataram Islam.

 

Materi Pembelajaran

Kesultanan Mataram (kadang disebut Kesultanan Mataram Islam atau Kesultanan Mataram Baru untuk membedakan dengan Kerajaan Mataram Kuno yang bercorak Hindu) adalah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang pernah berdiri pada abad ke-17. Kerajaan ini dipimpin suatu dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pemanahan, yang mengklaim sebagai suatu cabang ningrat keturunan penguasa Majapahit. Asal-usulnya adalah suatu Kadipaten di bawah Kesultanan Pajang, berpusat di “Bumi Mentaok” yang diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan sebagai hadiah atas jasanya. Raja berdaulat pertama adalah Sutawijaya (Panembahan Senapati), putra dari Ki Ageng Pemanahan.

 

Sejarah

Setelah Kerajaan Demak berakhir, berkembanglah  Kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya. Di bawah kekuasaannya, Pajang berkembang baik. Bahkan berhasil mengalahkan Arya Penangsang yang berusaha merebut kekuasaannya. Tokoh yang membantunya mengalahkan Arya Penangsang di antaranya adalah Ki Ageng Pemanahan (Ki Gede Pemanahan). la diangkat sebagai bupati (adipati) di Mataram. Kemudian putranya, Raden Bagus (Danang) Sutawijaya diangkat anak oleh Sultan Hadiwijaya dan dibesarkan di istana. Sutawijaya dipersaudarakan dengan putra mahkota, bernama Pangeran Benowo.

Pemanahan justru semakin menguatkan kekuasaannya sehingga akhirnya Istana Pajang pun jatuh ke tangannya. Sutawijaya segera memindahkan pusaka Kerajaan Pajang ke Mataram. Sutawijaya sebagai raja pertama dengan gelar: Panembahan Senapati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Pusat kerajaan ada di Kota Gede, sebelah tenggara Kota Yogyakarta sekarang.

 

Sultan-sultan yang Memerintah

Berikut ini merupakan urutan para raja-raja yang memerintah di Kesultanan Demak:

  1. Ki Ageng Pamanahan
  2. Panembahan Senapati
  3. Raden Mas Jolang
  4. Raden Mas Rangsang (Sultan Agung)
  5. Amangkurat I
  6. Raden Mas Rahmat

 

Perekonomian

Letak geografis nya yang berada di pedalaman didukung tanah yang subur, menjadikan kerajaan Mataram sebagai daerah pertanian (agraris) yang cukup berkembang, bahkan menjadi daerah pengekspor beras terbesar pada masa itu. Rakyat Mataram juga banyak melakukan aktivitas perdagangan laut. Hal ini dapat terlihat dari dikuasai nya daerah-daerah pelabuhan di sepanjang pantai Utara Jawa. Perpaduan dua unsur ekonomi, yaitu agraris dan maritim mampu menjadikan kerajaan Mataram kuat dalam percaturan politik di nusantara.

 

Masa Kejayaan

Sultan Agung dikenal dengan politik ekspansi nya, sehingga bukan Jawa saja yang ingin dikuasai nya melainkan wilayah Nusantara. Musuh-musuh Sultan Agung bukan saja kerajaan-kerajaan yang terdapat di pesisir dan kerajaan Hindu di Blambang, tetapi juga para penguasa asing yang berkoloni di Nusantara.

Misalnya, Portugis dan Belanda. Oleh karena itu, wajarlah jika semenjak diangkatnya, ia selalu mengangkat senjata dalam rangka menerapkan taktik ekspansi.

Sebagai orang Islam, Sultan Agung selalu menaati ibadah dan menjadi contoh untuk rakyatnya. Setiap hari Jum’at Sultan agung bersama rakyatnya melakukan shalat Jum’at. Dalam tahun 1633 ia membuat tarikh (kalender baru) yakni kalender Jawa-Islam.

 

Kemunduran

Masa kejayaan yang diukir oleh Sultan Agung berakhir sesudah Susuhunan Amangkurat I naik tahta. Ia merupakan sosok pemimpin yang kejam dan otoriter. Atas campur tangan pihak kolonial Belanda, akhirnya Kesultanan Mataram terpecah.

Adapun faktor-faktor yang menyebabkan Runtuhnya kerajaan Mataram adalah, pertama, masuknya kolonial Belanda ke nusantara. Kedua, Perselisihan antara pewaris tahta Mataram. Dan yang ketiga, di pecahnya Mataram menjadi 2 kerajaan, berdasarkan perjanjian Giyanti.

 

Sumber:

  • Bahan Ajar Sejarah Indonesia kelas 8
  • Wikipedia
  • Zonasiswa.com
  • Satujam.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *