Kerajaan Sriwijaya

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat memahami sejarah terbentuknya Kerajaan Sriwijaya

Materi Pembelajaran :

Kerajaan Sriwijaya

Tengoklah kembali silsilah kerajaan Mataram di bagian atas. Perhatikan posisi Balaputradewa. Balaputradewa kalah dalam konflik di Mataram, sehingga menyingkir ke Sumatera. Di Sumatera Balaputradewa menjadi salah satu tokoh penting dalam kerajaan besar yakni Sriwijaya. Bagaimana perkembangan kerajaan Sriwijaya dan peranan Balaputradewa? Mari kita simak melalui uraian di bawah ini!

a. Munculnya Kerajaan Sriwijaya

Menurut berbagai sumber sejarah, pada sekitar abad ke-7, di pantai Sumatra Timur telah berkembang berbagai kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut antara lain Tulangbawang, Melayu, dan Sriwijaya. Sriwijaya merupakan kerajaan yang berhasil berkembang mencapai kejayaan. Pada tahun 692 M, Sriwijaya mengadakan ekspansi ke daerah sekitar Melayu.

b. Letak Kerajaan Sriwijaya

Di mana letak Kerajaan Sriwijaya? Belum ditemukan secara pasti di mana persisnya letak istana Kerajaan Sriwijaya. Sebagian ahli sejarah mengatakan pusat Kerajaan Sriwijaya di Palembang, namun ada pula yang berpendapat di Jambi, bahkan ada yang berpendapat di luar Indonesia. Pendapat yang banyak didukung oleh para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya adalah di Palembang, di dekat pantai dan di tepi Sungai Musi.

c. Sumber Sejarah Kerajaan Sriwijaya

Sebagaimana halnya kerajaan-kerajaan Hindu Budha lainnya, prasasti merupakan salah satu sumber sejarah utama. Prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya sebagian besar ditulis dengan huruf Pallawa. Bahasa yang dipakai Melayu Kuno. Berikut ini beberapa prasasti yang mempunyai hubungan dengan Kerajaan Sriwijaya.

1) Prasasti Kedukan Bukit

Ditemukan di tepi Sungai Tatang, dekat Palembang yang berangka tahun 605 Saka atau 683 M. Prasasti ini menerangkan bahwa adanya seorang bernama Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra). Dapunta Hyang melakukan perjalanan dengan perahu dari Minangatamwan bersama tentara 20.000 personil.

2) Prasasti Talang Tuo

Ditemukan di sebelah barat Kota Palembang di daerah Talang Tuo yang berangka tahun 606 Saka (684 M). Prasasti ini menyebutkan tentang pembangunan sebuah taman yang disebut Sriksetra. Taman ini dibuat oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga.

3) Prasasti Telaga Batu

Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang. Prasasti ini tidak berangka tahun. Isi prasasti terutama tentang kutukan-kutukan yang menakutkan bagi mereka yang berbuat kejahatan.

4) Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti ini berangka tahun 608 Saka (686 M). Isi prasasti terutama permintaan kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya, dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.

5) Prasasti Karang Berahi

Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi. Prasasti ini berangka tahun 608 Saka (686 M). Isi Prasasti sama dengan isi Prasasti Kota Kapur.

Beberapa prasasti yang lain, yakni Prasasti Ligor dan Prasasti Nalanda. Prasasti Ligor berangka tahun 775 M ditemukan di Ligor, Semenanjung Melayu. Prasasti Nalanda ditemukan di Nalanda, India Timur. Di samping prasasti-prasasti tersebut, sumber sejarah Sriwijaya yang penting adalah berita Cina. Misalnya, berita dari I-tshing yang pernah tinggal di Sriwijaya.

d. Perkembangan Kerajaan Sriwijaya

1) Sebagai Negara Maritima

Prasasti Kedukan Bukit dan Talang Tuo pada abad ke-7, menyebut Dapunta Hyang melakukan usaha perluasan daerah. Bebrapa daerah seperti Tulang-Bawang (Lampung), Kedah (Semenanjung Melayu), Pulau Bangka, Daerah Jambi, bahkan sampai Tanah Genting Kra. Dengan demikian Sriwijaya mempunyai kekuasaan sampai di negeri Malaysia pada saat ini. Tetapi usaha Sriwijaya menaklukkan Jawa tidak berhasil.

Balaputradewa adalah putra dari Raja Samarotungga dengan Dewi Tara. Ia memerintah sekitar abad ke-9 M. Wilayah kekuasaan Sriwijaya antara lain Sumatra dan pulau-pulau sekitar Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah, sebagian Kalimantan, Semenanjung Melayu, dan hampir Seluruh perairan Nusantara. Itulah sebabnya, Sriwijaya kemudian dikenal sebagai negara nasional yang pertama.

Sriwijaya adalah negara Maritim, sehingga daerah kekuasaannya sebagian besar adalah wilayah pantai. Sebagai kerajaan Maritim, Sriwijaya membentuk armada angkatan laut yang kuat.

2) Sriwijaya sebagai Pusat Studi Agama Buddha

Sriwijaya menjadi pusat studi agama Budha Mahayana di seluruh wilayah Asia Tenggara. Raja Balaputradewa menjalin hubungan erat dengan Kerajaan Benggala dari India Raja Dewapala Dewa. Raja ini menghadiahkan sebidang tanah kepada Balaputradewa untuk pendirian sebuah asrama bagi para pelajar dan mahasiswa yang sedang belajar di Nalanda.

Sriwijaya menjadi salah satu pusat pendidikan di Asia Tenggara. Hal ini dibuktikan bahwa banyak mahasiswa asing yang juga belajar di Sriwijaya. Mahasiswa yang ingin belajar ke India, biasanya mampir ke Sriwijaya terlebih dahulu untuk belajar Bahasa Sanskerta. Para mahasiswa tersebut umumnya berasal dari Asia Timur.

Bukti tentang cerita di atas adalah berita I-tsing, yang menyebutkan bahwa di Sriwijaya tinggal ribuan pendeta dan pelajar (mahasiswa) agama Budha. Salah seorang pendeta Budha yang terkenal adalah Sakyakirti.

e. Keruntuhan Sriwijaya

Terdapat beberapa penyebab kemunduran Kerajaan Sriwijaya, di antaranya: Perubahan kondisi alam. Pusat kerajaan Sriwijaya semakin jauh dari pantai akibat pengendapan lumpur. Pendangkalan Sungai Musi yang terus menyebabkan air laut semakin jauh karena terbentuknya daratan-daratan baru. Mundurnya angkatan laut, sehingga banyak daerah kekuasaan melepaskan diri.

Beberapa kali Sriwijaya mendapat serangan dari kerajaan lain. Tahun 1017 M Sriwijaya mendapat serangan dari Raja Rajendracola dari Colamandala. Tahun 1025 serangan itu diulangi, sehingga Raja Sriwijaya Sri Sanggramawijayattunggawarman ditahan oleh pihak Kerajaan Colamandala. Tahun 1275, Raja Kertanegara dari Singasari melakukan ekspedisi Pamalayu. Hal itu menyebabkan daerah Melayu lepas dari kekuasaan Sriwijaya. Tahun 1377 armada angkatan laut Majapahit menyerang Sriwijaya. Serangan ini mengakhiri riwayat Kerajaan Sriwijaya.

Sumber :

Sudrajat. 2012. Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *