Kerajaan Sunda

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat memahami sejarah terbentuknya Kerajaan Sunda

Materi Pembelajaran :

Kerajaan Sunda (Pajajaran)

Setelah Kerajaan Tarumanegara, perkembangan sejarah di Jawa Barat (tanah Sunda) tidak banyak diketahui. Pada abad ke-11 nama Sunda muncul lagi. Tahun 1050 M nama Sunda dijumpai dalam Prasasti Sanghyang Tapak, yang ditemukan di Kampung Pangcalikan dan Bantarmuncang di tepi Sungai Citatih, Cibadak, Sukabumi. Prasasti ini penting karena menyebut nama Raja Sri Jayabupati. Daerahnya disebut Prahajyan Sunda. Raja Sri Jayabupati disamakan dengan Rakyan Darmasiksa pada cerita Parahyangan. Pusat pemerintahannya adalah Pakwan Pajajaran (mungkin di dekat Bogor sekarang).

Raja Sri Jayabupati penganut agama Hindu aliran Waisnawa. Hal ini dapat dilihat dari gelarnya yakni Wisnumurti. Masa pemerintahan Jayabupati sezaman dengan pemerintahan Airlangga di Jawa Timur.

Sri Jayabupati digantikan oleh Rahyang Niskala Wastu Kancana. Pusat kerajaannya ada di Kawali. Dengan demikian, kemungkinan pusat kerajaan pindah dari Pakwan Pajajaran ke Kawali. Kawali letaknya tidak jauh dari Galuh yang merupakan pusat pemerintaban Kerajaan Sunda zaman Sanna dahulu. Diterangkan bahwa di sekeliling keraton dibuat saluran air. Raja Niskala Wastu Kancana meninggal dan dimakamkan di Nusalarang. Ia digantikan oleh anaknya yang bernama Rahyang Dewa Niskala atau Rahyang Ningrat Kancana.

Rahyang Dewa Niskala digantikan oleh Sri Baduga Maharaja. Ia bertahta di Pakwan Pajajaran. Sri Baduga memerintah antara tahun 1350 – 1357 M. Pusat pemerintahannya kembali ke Pakwan Pajajaran. Pada masa pemerintahannya, kerajaan teratur dan tenteram.

Menurut Kitab Pararaton, pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja telah terjadi peristiwa yang disebut Pasundan Bubat. Dalam peristiwa tersebut Sri Baduga Maharaja tewas. Akhirnya yang melanjutkan pemerintahan di Pakwan Pajajaran adalah Hyang Bunisora. Ia memerintah antara tahun 1357 – 1371 M. Setelah itu berturut-turut raja yang memerintah di Sunda sebagai berrikut.

a. Prabu Niaskala Wastu Kancana (1371-1474M).

b. Tohaan di Ga1uh (1415 – 1482 M).

c. Sang Ratu Jayadewata (1482 – 1521 M).

Pada masa pemerintahan Jayadewata, Ratu Samiam (Surawisesa) sebagai putra mahkota, diutus ke Malaka untuk mencari bantuan kepada Portugis, karena Kerajaan Pajajaran diserang tentara Islam. Pada waktu itu Islam sudah berkembang di berbagai daerah, misalnya di Cirebon.

d. Ratu Samiam (Surawisesa) (1521 – 1535 M).

Pada masa pemerintahan Ratu Samiam datang utusan Portugis dari Malaka dipimpin oleh Hendrik de Leme. Tahun 1527 M Sunda Kelapa jatuh ke tangan tentara Islam.

e. Prabu Ratu Dewata (1535 – 1543 M).

Pada masa pemerintahan Prabu Ratu Dewata terjadi serangan tentara Islam yang dipimpin oleh Maulana Hasanuddin dan anaknya, Maulana Yusuf.

Sang Ratu Saksi (1543 – 1551 M).

Tohaan di Majaya (1551 – 1567 M).

Nusiya Mulya (1567 – 1579 M)

Nusiya Mulya merupakan raja terakhir dari Kekajaan Pajajaran

Sumber :

Sudrajat. 2012. Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *