Perjuangan Rohana Kudus, Wartawati Pertama di Indonesia

Tujuan Pembelajaran :

Siswa meneladani semangat tokoh dalam perjuangannya pada masa sebelum kemerdekaan

Materi Pembelajaran :

Rohana Kudus

Rohana Kudus, lahir di Koto Gadang Bukittinggi, Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember tahun 1884,1 dari pasangan Muhammad Rasyad Maharaja Sutan dan Kiam. Ayahnya seorang jurnalis dan ibunya sebagai perempuan biasa, seperti kaum-kaum perempuan pada masa itu. Rohana Kudus merupakan saudara sebapak dengan dengan Sutan Syahrir (Pimpinan Partai Sosialis Indonesia).

Pada tahun 1908 ketika Rohana berumur 24 tahun menikah dengan Abdul Kudus Pamuncak Sutan, yakni seorang pemuda yang berjiwa sosial dan aktif dalam partai politik. Menghabiskan waktu masa kecilnya di Alahan Panjang. Pada umur 6 tahun sempat dijadikan anak angkat oleh Jaksa Alahan Panjang. Pada masa itu Rohana mendapatkan pendidikan agama dan keterampilan dari istri sang Jaksa. Atas pendidikan yang diberikan ibu angkatnya ini pula Rohana bisa membaca, mengalahkan situasi pendidikan yang sangat terbelakang di Alahan Panjang. Belum ada sekolah dan lembaga pendidikan untuk rakyat, namun berkat ibu angkatnya itu Rohana bisa membaca.

Tahun 1892 Rohana meninggalkan Alahan Panjang, ia ikut dengan ayahnya yang pindah bekerja ke Simpang Tonang Talu Pasaman. Masa di Talu, ia masih rajin membaca dan belajar sendiri. Untuk melengkapi bacaan Rohana, ayahnya sengaja membuat langganan dengan surat kabar untuk anak-anak terbitan Medan “ Berita Kecil”.

Gerakan yang dilakukan oleh Rohana kecil ini, akhirnya semasa di Talu, Rohana menjadi guru bagi teman-temannya. Setiap hari Rohana berkumpul di teras rumahnya dengan teman-teman sebayanya, baik laki-laki mau pun perempuan. Rohana mengajarkan teman-temannya itu belajar membaca.

Selama empat tahun di Talu, itulah kegiatan Rohana Kecil, mengajar anak-anak sebaya dengannya dengan keilmua-keilmuan yang dimilikinya secara sukarela dan senang hati. Rohana tidak pernah mengeluh dan tidak pernah merasa bosan dengan kegiatannya itu. Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, tidak ada perempuan seumur 10 tahun di masa itu yang memiliki sekolah terbuka seperti yang dilakukan oleh Rohana, hanya Rohana lah yang
membuka sekolah pada umur 10 tahun itu.

Rohana Mendirikan Surat Kabar dan Sekolah

Pada tanggal 11 Februari 1911, Rohana mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia. Sebuah sekolah khusus perempuan yang berfokus pada keterampilan. Namun, walau berfokus pada keterampilan, Rohana juga mengajarkan berbagai pelajaran umum, seperti pendidikan baca-tulis, agama, budi pekerti, keuangan, dan juga bahasa Belanda.

Perjuangan Rohana dalam memajukan kaum perempuan di Sumatera Barat bukanlah hal yang mudah. Berbagai penentangan didapat dari pemuka adat dan masyarakat lelaki Minangkabau. Mereka beranggapan, untuk apa perempuan harus ‘menyerupai’ laki-laki.

Di zaman itu, Rohana sangat hebat dalam menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Belanda. Rohana sering memesan peralatan dan kebutuhan jahit menjahit. Dalam sisi berwirausaha, Rohana menjadi ‘marketing’ bagi murid-muridnya dengan menyalurkan hasil karya murid-muridnya untuk diekspor ke Belanda.

Tak hanya menjadi pelopor dalam mendirikan sekolah khusus perempuan yang berfokus pada keterampilan, Rohana juga menjadi pelopor dalam mendirikan koperasi simpan pinjam dan jual beli yang semuanya dikelola oleh perempuan. Suatu gebrakan yang luar biasa bagi perempuan Minangkabau di jaman itu.

Pada tanggal 10 Juli 1912, Rohana membuat sebuah gebarakan baru dengan mendirikan surat kabar ‘Sunting Melayu’, dimana mulai dari pemimpin rdaksi, redaktur, dan penulisnya seluruhnya perempuan.

Pada tanggal 22 Oktober 1916, batu sandungan kembali menghadang. Kali ini bukan dari pemuda adat atau masyarakat, namun dari murid beliau sendiri. Rohana difitnah dengan tuduhan korupsi. Nyaris dicopot jabatan Direktrisnya di Sekolah Amai, dan harus mengikuti berkali-kali persidangan dengan didampingi suaminya. Karena tidak terbukti korupsi, maka jabatan Direktris pun kembali dipercayakan, namun Rohana menolak karena ingin pindah ke Bukittinggi.

Di Bukittinggi Rohana kembali mendirikan sekolah: Rohana School. Nama Rohana yang sudah terkenal di berbagai surat kabar membuat sekolahnya begitu diminati. Muridnya tak hanya dari Sumatera Barat saja, tapi juga dari berbagai daerah.

Rohana juga diminta menjadi guru di Sekolah Darma. Kali ini Rohana tak hanya mengajar murid perempuan saja, tetapi juga laki-laki. Rohana lebih mengajar keterampilan menyulam dan merenda. Dari semua pengajar di sekolah tersebut, hanya Rohana yang tidak menempuh pendidikan formal, namun kecerdasannya jauh lebih baik dari teman-temannya. Rohana pada akhirnya menghajar semua pelajaran, mulai dari agama, budi pekerti, bahasa Belanda, politik, sastra, dan jurnalistik.

Di bidang politik, Rohana turut membantu pergerakan politik melalui berbagai tulisannya yang menjadi semangat bagi anak muda. Pada jaman penjajahan, Rohana juga menjadi pelopor berdirinya dapur umum dan badan sosial bagi para gerilyawan. Bahkan Rohana pun memberi ide brilian dengan ‘mengajari’ penyelundupan senjata dari Kotogadang ke Bukittinggi melalui Ngarai Sianok. Senjata tersebut disembunyikan dalam tumpukan sayur dan buah-buahan yang akan dibawa dengan kereta api.

Rohana selanjutnya merantau ke Lubuk Pakam dan Medan. Di sana beliau kembali mengajar dan memimpin surat kabar Perempuan Bergerak. Lalu kembali ke Padang dan menjadi redaktur Surat Kabar Radio yang diterbitkan oleh Tionghoa-Melayu di Padang. Beliau juga menjadi redaktur Surat Kabar Cahaya Sumatera.

Pesan berharga Rohana Kudus bagi kaum perempuan adalah  “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibanya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Perempuan harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan”.

Jasa-jasanya beliau yang begitu sempurna, Rohana Kudus pun mendapat penghargaan sebagai Wartawati Pertama Indonesia, Perintis Pers Indonesia, dan Bintang Jasa Utama. Rohana Kudus wafat di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1972.

Sumber :

http://sejarahri.com/rohana-kudus-pendobrak-pendidikan-wanita-di-sumatera-dan-wartawati-pertama-indonesia/

http://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/marwah/article/download/484/464

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *