Rahmah El-Yunusiyyah Tokoh Minang yang Berjuang untuk Kaum Perempuan

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat meneladani perjuangan tokoh di era sebelum kemerdekaan Indonesia

Materi Pembelajaran :

Rahmah El-Yunussiyah

Ketika Kartini wafat pada 1904, Rahmah El Yunusiyyah baru berusia 4 tahun. Wanita kelahiran 1 Rajab 1318 Hijriyah (20 Desember 1900) di Nagari Bukit Sarungan, Padang Panjang, Sumatra Barat ini adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Putra dari bapak Muhammad Yunus bin Imanuddin seorang Hakim sekaligus Ahli ilmu Falak (Astronomi) dan seorang ibu yang bernama Rafi’ah. Ayahnya seorang ulama besar yang menjabat sebagai kadi di Pandai Sikek, Tanah Datar. Kakekknya Imanuddin merupakan seorang ahli falaq dan pemimpin Tarekat Naqsabandiyah. Sejak kecil Rahmah sudah ditinggal ayahnya. Ia dibesarkan dan diasuh oleh ibu dan kakak-kakaknya.

Rahmah belajar secara otodidak. Ia belajar dari kakak-kakanya Zainuddin Labay dan M. Rasyad. Ketika Zainuddin Labay mendirikan Diniyyah School, Rahmah ikut pula belajar disana. Ia belajar kepada Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka), Tuanku Mudo dan Abdul Hamid. Disamping belajar agama antara tahun 1931-1939 Rahmah mengikuti kursus ilmu kebidanan di Rumah Sakit Umum Kayutanam.

Dibesarkan dilingkungan religius dan cendikia ia dikenal sebagai perempuan cerdas dan aktif. Ia tidak hanya dikenal sebagai tokoh pendidikan tapi juga dikenal sebagai pejuang dengan mengangkat senjata untuk bersama-sama memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.  Ia memperoleh pendidikan formal selama 3 tahun. Ia terus belajar bahasa arab dan juga latin disekolah Diniyah, Sore hari ia lanjutkan mengaji kepada para ulama.

Sesuai tuntutan adat, Rahmah kawin muda pada usia 16 kendati pernikahan itu hanya bertahan 6 tahun saja. Setelahnya, Rahmah menjelma menjadi sosok perempuan yang berpengaruh.

Rahmah Mulai Mendirikan Sekolah

Rahmah semula adalah salah satu siswa di sekolah milik abangnya itu. Namun, ia merasa murid-murid perempuan masih kurang berperan dalam proses pembelajaran, termasuk malu bertanya dan mengungkapkan pendapat karena dominasi murid laki-laki. Selain itu, ia juga menilai banyak materi pelajaran yang tidak tersampaikan secara jelas kepada siswa perempuan. Salah satu penyebabnya: sebagian besar pengajar adalah pria. Dari situlah Rahmah El Yunusiyah mulai memikirkan rencana untuk membuka sekolah sendiri bagi kaum perempuan. Rencana tersebut akhirnya terwujud kendati tidak mudah. Pada usia yang masih sangat muda, Rahmah sudah sadar akan pentingnya emansipasi kaum perempuan.

“Kalau saya tidak mulai dari sekarang, maka kaum saya akan tetap terbelakang. Saya harus mulai, dan saya yakin akan banyak pengorbanan yang dituntut dari diri saya. Jika kakanda bisa, kenapa saya tidak bisa? Jika lelaki bisa, kenapa perempuan tidak bisa?” kata Rahmah kepada Zainuddin, seperti dikutip dari buku Ulama Perempuan Indonesia karya Junaidatul Munawaroh (2002: 12).

Saat usia 23 tahun Rahmah sangat gelisah melihat kondisi kaum perempuan yang masih terjerat oleh kebodohan dan keterbelakangan terutama dalam hal pendidikan agama. Tanggal 1 November 1923 dengan dukungan keluarga dan teman-teman perempuan di PMDS (Persatuan murid-murid Diniyah School) ia mendirikan sekolah khusus perempauan yang diberi nama Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah Li al-Banat. Madrasah ini tidak hanya memberikan pembelajaran ilmu ilmu agama namun dikembangnkan juga dengan memberi pengajaran klasikal lengkap dengan sarananya seperti gedung, meja, bangku, papan tulis, kapur dan sebagainya.

Ia terus melakukan inovasi-inovasi dan pengem bangan , tahun 1926 ia membuka kelas Menjesal School (Kelas bagi perempuan yang belum bisa baca dan tulis). Tahun 1934 mendirikan taman kanak-kanak (Freubel School) dan Junior School (Setingkat HIS). Selain itu Ia juga mendirikan Diniyah School Putri 7 (Tujuh) tahun yang terdiri dari tingkat Ibditaiyah selama 4 (Empat) tahun dan tingkat Tsanawiyah selama tiga tahun. tahun 1936 ia berhasil mendirikan sekolah Tenun. Ia juga mendirikan Kulliyat al Mu’alimat al Islamiyah tahun 1937 dengan tujuan untuk mencetak tenaga guru muslimah profesional yang jangka waktu pendidikannya ditempuh selama 3 (tiga) tahun. Tidak berhenti sampai disini tahun 1967 ia mendirikan Fakultas tarbiyah dan fakultas dakwah. Pada tahun 1969 Fakultas ini berubah menjadi fakultas Dirasah Islamiyah.

Semua lembaga pendidikan yang didirikan Rahmah dikelola secara mandiri, tidak terikat dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda. Maka, ketika diterapkan aturan tentang Ordonansi Sekolah Liar, Rahmah enggan mendaftarkan sekolahnya. Sama seperti Ki Hadjar Dewantara dengan Taman Siswa-nya, Rahmah menolak subsidi dan memilih melawan.

Tidak hanya berjuang dalam bidang pendidikan Rahmah juga turut aktif dalam organisasi masyarakat dan juga aktif dalam Gyu Gun KO En Kai, Hana no Kai. Sewaktu pecah perang Pasifik Rahmah menjadikan Diniyah School sebagai rumah sakit Darurat. Ia juga pertama kalinya yang mengibarkan bendera merah putih di sumatra Barat. Saat era ke merdekan ia mengayomi laskar Sabilillah dan Laskar Hizbulwatan. Ia juga mempelopori terbentuknya Tentara keamanan Rakyat (TKR).

Keberhasilan beliau dalam mengelola perguruan Diniyah Putri Padang Panjang mendapatkan apresiasi tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri. Rektor Universitas Al Azar Mesir, Dr. Syaikh Abdurrahman Taj mengadakan kunjungan ke perguruan Diniyyah Putri School. ia sangat tertarik dengan sistem pendidikan yang ada di sana. Tidak lama dari menimba ilmu dari kunjungan tersebut Al-Azar kampus Islam tertua di dunia tersebut membuka pendidikan khusus perempuan yang di beri nama Kuliyatul Lil Banat. Karena telah menginspirasi Universitas Al-Azhar maka beliau mendapat gelar Syaikhah, ini adalah prestasi yang sangat membangakan tidak hanya bagi dirinya tapi juga bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan.

Namanya kian disegani ketika ia mendapatkan gelar kehormatan “Syaikhah” dari Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir pada Juni 1957. Inilah untuk pertama kalinya Al-Azhar menyematkan gelar akademik terhormat itu bagi seorang perempuan. Dari Mesir, Rahmah melanjutkan kunjungan ke Suriah, Lebanon, Yordania, dan Irak. Sebelumnya, ia sempat menunaikan ibadah haji di Mekkah.

 

 

 

 

 

Sumber :

https://www.academia.edu/10056137/Rahmah_El_Yunusiyah

https://tirto.id/rahmah-el-yunusiyah-memperjuangkan-kesetaraan-muslimah-cE52

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *