Kerajaan Aceh Darussalam

Tujuan Pembelajaran

Siswa dapat memahami sejarah, ekonomi, masa kejayaan dan sebab kemunduran dari Kesultanan Aceh Darussalam.

 

Materi Pembelajaran

Kesultanan Aceh terletak di utara pulau Sumatra dengan ibukota Bandar Aceh Darussalam dengan sultan pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang dinobatkan pada Ahad, 1 Jumadil awal 913 H aatau pada tanggal 8 September 1507. Kesultanan Aceh mengembangkan pola dan sistem pendidikan militer, berkomintmen dalam menentang imperialism bangsa Eropam meemiliki system pemerintahan yang teratur dan sistematik, mewujudkan pusat-pusat pengkajian ilmu pengetahuan dan menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain.

 

Sejarah

Kesultanan Aceh didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada tahun 1496. Pada awalnya, kerjaaan ini berdiri diatas wilayah Kerajaan Lamuri, kemudian menundukkan dan menyatukan beberapa wilayah kerajaan sekitarnya mencakup Daya, Pedir, Lidie, Nakur. Selanjutnya pada tahun 1524 wilayah Pasai sudah menjadi bagian dari kedaulatan Kesultanan Aceh diikuti dengan Aru.

 

Sultan-sultan yang Memerintah

Berikut ini merupakan urutan para raja-raja yang memerintah di Kesultanan Aceh Darussalam:

  1. Sultan Ali Mughayat Syah
  2. Salahudin
  3. Alaudin Raiayat Syah Al-Kahar
  4. Sultan Iskandar Muda
  5. Sultan Iskandar Thani

 

Perekonomian

Pasai merupakan kota dagang, mengandalkan lada sebagai komoditi andalannya, dalam catatan Aceh banyak memiliki komoditas yang diperdagangkan diantaranya:

  1. Minyak tanah dari Deli,
  2. Belerang dari Pulau Weh dan Gunung Seulawah
  3. Kapur dari Singkil
  4. Kapur barus dan menyan dari Barus
  5. Emas di Pantai Barat
  6. Sutera di Banda Aceh

Selain itu, di ibukota juga banyak terdapat pandai emas, tembaga dan suasa yang mengolah barang mentah menjadi barang jadi. Sedang Pidie merupakan lumbung beras bagi kesultanan. Namun di antara semua yang menjadi komoditas unggulan untuk diekspor adalah lada. Pusat lada terletak di pantai Barat yaitu RIgas, Teunom dan Meulaboh.

 

Masa Kejayaan

Kesultanan Aceh mengalami masa ekspansi dan pengaruh terluas pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda (1607 – 1636) atau Sultan Meukuta Alam. Pada masa kepemimpinannya, Aceh menaklukkan Pahang yang merupakan sumber timah utama.

Pada tahun 1629, kesultanan Aceh melakukan penyerangan terhadap Portugis di Melaka dengan armada yang terdiri dari 500 buah kapal perang dan 60.000 tentara laut. Serangan ini dalam upaya memperluas dominasi Aceh atas Selat Malaka dan semenanjung Melayu.

 

Kemunduran

Kemunduran Aceh disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya ialah makin menguatnya kekuasaan Belanda di pulai Sumatera dan Selat Malaka, ditandai dengan jatuhnya wilayah Minangkabau, Siak, Tiku, Tapanuli, Mandailing, Deli, Barus (1840) serta Bengkulu kedalam pangkuan penjajahan Belanda. Faktor penting lainnya ialah adanya perebutan kekuasaan di antara pewaris tahta kesultanan.

Perang saudara dalam hal perebutan kekuasaan turut berperan besar dalam melemahnya Kesultanan Aceh. Pada masa Sultan Alauddin Jauhar Alamsyah (1795 – 1824), seorang keturunan Sultan yang terbuang Sayyid Hussain mengklaim mahkota kesultanan dengan mengangkat anaknya menjadi Sultan Saif Al-Alam.

 

Sumber

  • Bahan Ajar Sejarah Indonesia kelas 8
  • Wikipedia
  • Sejarah-negara.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *