Kerajaan Tarumanegara

 

Tujuan Pembelajaran :

Siswa dapat memahami sejarah terbentuknya Kerajaan Tarumanegara

Materi Pembelajaran :

Kerajaan Tarumanegara

Berdasarkan prasasti-prasasti yang ditemukan, para ahli meyakini letak pusat Kerajaan Tarumanegara kira-kira di antara Sungai Citarum dan Cisadane. Dari namanya, Tarumanegara dari kata taruma, mungkin berkaitan dengan kata tarum yang artinya nila. Kata tarum dipakai sebagai nama sebuah sungai di Jawa Barat yakni Sungai Citarum. Kebanyakan ahli yakin kerajaan ini pusatnya dekat kota Bogor Jawa Barat.

Apa saja bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara? Bukti-bukti sebagian besar berupa prasasti, terutama peninggalan raja terkenal Tarumanegara yang bernama Raja Purnawarman. Prasasti-prasasti tersebut antara lain prasasti Ciaruteun, prasasti Kebon Kopi, prasasti Tugu, Prasasti Lebak, prasasti Muara Cianten, dan prasasti Pasair Awi. Prasasti-prasasti itu umumnya bertulis huruf Pallawa dan menggunakan bahasa Sansekerta.

1) Prasasti Ciaruteun

Di dekat muara tepi Sungai Citarum, ditemukan prasasti yang dipahat pada batu. Pada prasasti tersebut terdapat gambar sepasang telapak kaki Raja Purnawarman. Sepasang telapak kaki tersebut Raja Purnawarman diibaratkan sebagai telapak kaki Dewa Wisnu.

2) Prasasti Kebon Kopi

Prasasti Kebon Kopi terdapat di Kampung Muara Hilir, Kecamatan Cibung-bulang, Bogor. Pada prasasti ini ada pahatan gambar tapak kaki gajah yang disamakan dengan tapak kaki gajah Airawata (gajah kendaraan DewaWisnu).

3) Prasasti Jambu

Di sebuah perkebunan jambu, Bukit Koleangkok, kira-kira 30 km sebelah barat Bogor ditemukan pula prasasti. Karena ditemukan di perkebunan Jambu, sehingga dinamakan Prasasti Jambu. Disebutkan dalam prasasti bahwa Raja Purnawarman adalah raja yang gagah, pemimpin yang termasyhur, dan baju zirahnya tidak dapat ditembus senjata musuh. Prasasti ini menggambarkan bagaimana kebesaran Raja Purnawarman.

4) Prasasti Tugu

Ternyata prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanegara menyebar di berbagai tempat. Salah satunya adalah prasasti yang ditemukan di Desa Tugu, Cilincing, Jakarta. Prasasti ini diberi nama Prasasti Tugu, yang menerangkan tentang penggalian saluran Gomati dan Sungai Candrabhaga. Mengenai nama Candrabhaga, Purbacaraka mengartikan candra sama dengan bulan sama dengan sasi. Jadi, Candrabhaga menjadi sasibhaga dan kemudian menjadi Bhagasasi kemudian menjadi bagasi, akhirnya menjadi menjadi Bekasi.

Prasasti ini sangat penting artinya, karena menunjukkan keseriusan Kerajaan Tarumanegara dalam mengembangkan pertanian. Penggalian Sungai Gomati menggambarkan bahwa teknologi pertanian dikembangkan sangat maju. Kerajaan Tarumanegara telah mengenal sistem irigasi. Selain itu juga menunjukkan bahwa keberadaan sungai dapat digunakan untuk transportasi air dan perikanan.

5) Prasasti Pasir Awi

Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Bogor.

6) Prasasti Muara Cianten

Prasasti Muara Cianten ditemukan di daerah Bogor.

7) Prasasti Lebak

Prasasti Lebak ditemukan di tepi Sungai Cidanghiang, Kecamatan Muncul, Banten Selatan. Prasasti ini menerangkan tentang keperwiraan, keagungan, dan keberanian
Purnawarman sebagai raja dunia.

Prasasti-prasasti di atas menunjukkan kebesaran Kerajaan Tarumanegara sebagai kerajaan pengaruh Hindu Budha di Jawa. Dapat dikatakan bahwa Tarumanegara merupakan kerajaan Hindu Budha terbesar pertama di Jawa.

Sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara ternyata juga didapat dari berita musafir China yang bernama Fa-Hien. Musafir yang datang di Jawa pada tahun 414 M membuat catatan tentang adanya Kerajaan To-lo-mo. atau Taruma. Istilah To-lo-mo ini tentu dimaksudkan pada kerajaan Tarumanegara.

Dalam kehidupan keagamaan berdasarkan berita dari Fa-Hien, di Tolomo ada tiga agama, yakni agama Hindu, agama Budha dan agama nenek moyang (kepercayaan animisime). Raja memeluk agama Hindu, yang diperkuat dengan adanya gambar tapak kaki raja pada prasasti Ciaruteun yang diibaratkan tapak kaki Dewa Wisnu. Adanya dua agama dan kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa sikap toleransi telah dijunjung tinggi. Inilah nilai-nilai asli bangsa Indonesia. Bangsa yang agamis, namun tetap menghormati kepercayaan orang lain. Hal ini sangat wajar, mengingat agama adalah hak asasi manusia.

Perkembangan kerajaan Tarumanegara masih dapat diketahui sampai dengan abad ke-7M. Pada masa tersebut Tarumanegara mengirim utusan ke Cina. Selain menjalin hubungan dagang, tentu untuk menjalin hubungan keagamaan. Perlu diingat bahwa pada masa tersebut China telah berkembang agama Budha yang sangat pesat. Akan tetapi dalam perkembangan setelah abad VII tidak ada keterangan yang jelas. Hanya saja pada masa selanjutnya berkembang kerajaan-kerajaan lain seperti Pajajaran di Jawa Barat dan Mataram di Jawa Tengah.

Sumber :

Sudrajat. 2012. Sejarah Indonesia Masa Hindu-Buddh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *